Pada tahun 1972, Mahkamah Agung, dalam perkara Dunn v. Blumstein, memutuskan bahwa negara bagian tidak boleh mensyaratkan tinggal sekurang-kurangnya satu tahun untuk memenuhi syarat memilih.
Pada tahun 1972, Mahkamah Agung AS mengeluarkan keputusan penting dalam kasus Dunn v. Blumstein yang menyatakan bahwa negara bagian tidak dapat memberlakukan persyaratan tempat tinggal satu tahun atau lebih untuk kelayakan pemungutan suara. Keputusan ini menegaskan prinsip aksesibilitas terhadap proses pemilihan. Kasus ini bermula di Tennessee, di mana ada undang-undang yang mewajibkan individu tinggal di negara bagian tersebut selama minimal satu tahun sebelum bisa mendaftar untuk memilih. Undang-undang ini berdampak besar bagi pemilih muda dan mereka yang sering berpindah tempat untuk pekerjaan atau pendidikan, yang pada dasarnya menghilangkan hak mereka untuk memilih. Penggugat, Joseph Dunn, berargumen bahwa persyaratan tempat tinggal melanggar hak dasar untuk memilih, sesuai dengan Klausul Perlindungan Setara pada Amandemen Keempat Belas. Dalam keputusan yang bulat, Mahkamah Agung setuju dan menyatakan bahwa kelayakan untuk memilih seharusnya tidak dibatasi secara sembarangan berdasarkan lamanya seseorang tinggal di negara bagian tertentu. Hakim Potter Stewart menyampaikan pendapat Mahkamah, menekankan bahwa memilih adalah hak fundamental yang penting bagi masyarakat demokratis. Keputusan ini memiliki dampak besar terhadap undang-undang pendaftaran pemilih di seluruh negara, mendorong inklusivitas yang lebih besar dan membantu meningkatkan partisipasi dalam pemilihan, khususnya di kalangan populasi muda dan yang sering berpindah. Dengan menghapus kendala pendaftaran, Mahkamah menekankan pentingnya mendorong keterlibatan sipil dan memastikan bahwa semua warga negara yang memenuhi syarat memiliki kesempatan untuk menyuarakan pendapat mereka. Dunn v. Blumstein kini dianggap sebagai tonggak penting dalam perkembangan hak suara di AS, memperkuat keyakinan bahwa hak untuk memilih harus dapat diakses oleh semua orang tanpa halangan yang tidak perlu. Kasus ini mencerminkan perjuangan berkelanjutan untuk kesetaraan dalam proses demokrasi dan mengingatkan kita akan pekerjaan yang masih perlu dilakukan untuk memastikan bahwa suara setiap warga negara terwakili dalam pemerintahan.
"Hari ini dalam Sejarah" lainnya